Minggu, 15 Maret 2026
Ramadhan

Bleson, Permainan Dentuman Ramadan Khas Banten

Dede Ahmad Jaelani
Dede Ahmad Jaelani Kontributor
07 Mar 2026 • 52 views
Bleson, Permainan Dentuman Ramadan Khas Banten

Lebak — Permainan tradisional bernama bleson atau sering juga disebut beleson kembali menjadi perbincangan setiap memasuki bulan Ramadan. Permainan yang menghasilkan dentuman keras ini telah lama dikenal di wilayah Banten, khususnya di Kabupaten Le...

🤖

Exceutive Summary

Permainan tradisional Bleson, atau beleson, kembali populer di bulan Ramadan di Banten, khususnya Kabupaten Lebak dan pesisir selatan. Alat sederhana ini meniru meriam bambu tradisional, namun dibuat lebih kecil dan modern dengan bahan bekas seperti kaleng susu, pipa paralon, atau PVC. Anak-anak dan pemuda menyusun tabung, memasukkan spiritus lewat semprotan, dan menggunakan pemantik piezoelektrik untuk menghasilkan percikan api yang memicu ledakan kecil. Suara dentuman keras menjadi daya tarik utama, sering dimainkan saat menunggu berbuka puasa atau setelah salat Tarawih. Meskipun menyenangkan, bleson dianggap berpotensi bahaya jika tidak digunakan dengan hati-hati, sehingga mendapat perhatian dari berbagai pihak.

🎯

Poin Penting

  • Bleson, permainan tradisional Banten, sering dimainkan saat Ramadan sebagai hiburan menunggu berbuka atau setelah salat Tarawih, menghasilkan dentuman keras menyerupai letusan kecil.
  • Permainan ini dibuat secara DIY menggunakan kaleng bekas, pipa PVC, dan spiritus, dipicu pemantik gas sehingga mudah dan murah disebarkan di rumah anak-anak.
  • Walaupun populer, bleson menimbulkan perhatian karena potensi bahaya jika tidak dipegang dengan hati‑hati, terutama bagi anak-anak yang memainkannya di halaman atau jalan kampung.

Lebak — Permainan tradisional bernama bleson atau sering juga disebut beleson kembali menjadi perbincangan setiap memasuki bulan Ramadan. Permainan yang menghasilkan dentuman keras ini telah lama dikenal di wilayah Banten, khususnya di Kabupaten Lebak dan beberapa daerah pesisir selatan seperti Panggarangan, Bayah, hingga Malingping.


Bagi sebagian masyarakat, bleson bukan sekadar permainan anak-anak. Dentuman yang dihasilkan dari alat sederhana ini telah menjadi bagian dari suasana Ramadan, terutama saat waktu menunggu berbuka puasa atau setelah salat Tarawih.


Namun di balik keseruannya, permainan ini juga mendapat perhatian dari berbagai pihak karena dinilai memiliki potensi bahaya jika tidak digunakan dengan hati-hati.


Bleson pada dasarnya merupakan versi lebih kecil dan modern dari meriam bambu tradisional yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Jika meriam bambu atau lodong biasanya berukuran besar dan menggunakan bahan alami seperti bambu, bleson dibuat dari bahan yang lebih mudah ditemukan di lingkungan sekitar.


Ukuran alat ini biasanya lebih ringkas sehingga mudah dibawa oleh anak-anak atau remaja yang memainkannya di halaman rumah atau di jalan kampung.


Saat dipicu, bleson akan menghasilkan suara dentuman keras yang menyerupai letusan kecil. Suara inilah yang menjadi daya tarik utama permainan tersebut.


Sebagian besar bleson dibuat secara mandiri oleh anak-anak atau pemuda setempat dengan konsep do-it-yourself (DIY). Bahan-bahan yang digunakan biasanya merupakan barang bekas yang mudah ditemukan.


Tabung utama bleson umumnya dibuat dari rangkaian kaleng bekas, seperti kaleng susu atau minuman ringan, yang disambung menjadi satu rangkaian panjang. Di beberapa daerah, tabung tersebut juga dibuat menggunakan pipa paralon atau PVC.


Pada bagian pemantik, pemain biasanya memanfaatkan pemantik dari korek api gas yang menggunakan sistem piezoelektrik. Alat ini berfungsi untuk memicu percikan api di dalam tabung.


Sementara itu, bahan bakar yang digunakan adalah cairan spiritus. Cairan tersebut biasanya dimasukkan ke dalam botol semprot kecil, lalu disemprotkan ke dalam lubang kecil di pangkal tabung.


Setelah spiritus disemprotkan, tabung biasanya dikocok sebentar agar cairan tersebut menguap dan memenuhi ruang di dalam tabung. Ketika pemantik ditekan, percikan api akan memicu ledakan kecil dari uap spiritus yang menghasilkan suara dentuman keras.


Di wilayah Banten selatan, bleson sudah lama menjadi bagian dari tradisi permainan anak-anak selama Ramadan.


Saat menjelang waktu berbuka puasa atau ngabuburit, anak-anak biasanya berkumpul di lapangan kecil atau pinggir jalan untuk memainkan bleson bersama teman-teman mereka. Dentuman yang terdengar bersahut-sahutan kerap menjadi penanda bahwa suasana Ramadan di kampung sedang ramai.


Permainan ini juga sering dimainkan setelah salat Tarawih ketika anak-anak kembali berkumpul di luar rumah.


Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu daerah saja. Di beberapa wilayah lain di Pulau Jawa, permainan serupa juga dikenal dengan berbagai nama.


Di antaranya adalah bledogan, long bumbung, atau meriam karbit, meskipun bahan dan cara pembuatannya bisa sedikit berbeda.


Meskipun dianggap sebagai permainan tradisional yang menghibur, penggunaan bleson juga memiliki sejumlah risiko yang cukup serius.


Bahan bakar yang digunakan, yaitu spiritus, merupakan cairan yang sangat mudah terbakar. Jika terjadi kesalahan dalam proses penyemprotan atau pemantik, api dapat menyambar kembali ke arah pemain.


Akibatnya, pemain berpotensi mengalami luka bakar pada tangan atau wajah.


Selain itu, penggunaan bahan seperti kaleng tipis atau pipa paralon yang tidak dirancang untuk menahan tekanan juga dapat menimbulkan bahaya. Jika sambungan tabung tidak kuat atau tekanan udara di dalamnya terlalu tinggi, tabung bisa pecah atau meledak.


Beberapa kasus kecelakaan yang pernah terjadi biasanya berkaitan dengan kegagalan konstruksi alat atau penggunaan bahan bakar yang berlebihan.

FAQ - Pertanyaan Umum

What is bleson and where does it originate from

Bleson is a traditional game popular during Ramadan in Banten, especially in Lebak Regency and coastal areas like Panggarangan, Bayah, and Malingping. It is a smaller, modern version of the bamboo cannon (meriam bambu) found across Indonesia, designed to produce a loud popping sound that becomes part of the Ramadan atmosphere.

How is a bleson typically made in a DIY fashion

Most blesons are built by children or local youth using readily available recycled materials. The main tube is usually assembled from a series of discarded cans—such as milk or soda cans—or from plastic pipes like parallel or PVC. The ignition mechanism often uses a piezoelectric lighter, and the fuel is a small amount of spiritus (alcohol) sprayed into a hole at the base of the tube.

What materials and steps are involved to create the explosive sound

After the spiritus is sprayed into the tube, it is shaken briefly so the liquid evaporates and fills the interior. When the piezoelectric lighter is pressed, a spark ignites the vapor, causing a small explosion that emits a loud popping noise, mimicking a miniature detonation.

Why has bleson raised safety concerns

Because it involves flammable liquid and an ignition source, there is a risk of accidental fire or injury if not handled carefully. The loud blast can also surprise bystanders, and improper use of the lighter or fuel can lead to dangerous situations.

When and how is bleson usually played during Ramadan in Banten

Children gather in small open spaces—such as schoolyards or village squares—especially while waiting for Iftar or during the ngabuburit (pre‑Iftar) period. They light the bleson to create the characteristic pop, adding excitement to the evening’s communal activities.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Komentar akan dimoderasi sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!