Pandeglang, 24 Februari 2026 – Kebakaran yang melanda Pasar Baru Labuan, Kabupaten Pandeglang, bukan hanya soal api yang menghanguskan bangunan. Bagi pedagang...
Exceutive Summary
Kebakaran Pasar Baru Labuan di Pandeglang menelan kerugian ratusan juta rupiah bagi pedagang, seperti Erida yang kehilangan stok senilai Rp 40 juta dan mesin penggiling. Kerugian totalnya diperkirakan mencapai Rp 200 juta, sementara pendapatan harian pun turun drastis. Pedagang menuduh pengelola pasar tidak menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) dan instalasi listrik yang aman, serta menanyakan bagaimana retribusi harian mereka dapat melindungi keselamatan. Hingga kini belum ada bantuan resmi atau kompensasi; pemerintah daerah diminta memprioritaskan pendataan kerugian, penyediaan tempat relokasi sementara, dan pembangunan kembali pasar dengan standar keamanan lebih tinggi. Peristiwa ini dipandang sebagai momentum evaluasi sistem pengelolaan pasar tradisional, menegaskan bahwa retribusi harian harus mencakup jaminan keamanan dasar. Pedagang mengharapkan tindakan konkret dari pemerintah untuk memulihkan ekonomi mereka.
Poin Penting
- • Kebakaran Pasar Baru Labuan menelan kerugian sekitar Rp 200 juta bagi pedagang, termasuk hilangnya stok dagangan dan mesin penggiling.
- • Pedagang menilai sistem keamanan pasar tidak memadai, mengkritik kekurangan APAR dan instalasi listrik, serta belum ada bantuan atau kompensasi resmi dari pemerintah.
- • Pemerintah daerah diminta segera melakukan pendataan kerugian, menyediakan tempat relokasi sementara, dan merencanakan pembangunan kembali pasar dengan standar keamanan yang lebih baik.
Pandeglang, 24 Februari 2026 – Kebakaran yang melanda Pasar Baru Labuan, Kabupaten Pandeglang, bukan hanya soal api yang menghanguskan bangunan. Bagi pedagang seperti Erida, musibah itu berarti hilangnya sumber penghidupan. Kini, di tengah puing dan bau arang yang masih menyengat, muncul pertanyaan: siapa yang bertanggung jawab atas nasib para pedagang?
Erida, penjual bumbu giling, kehilangan seluruh isi kiosnya. Ia mengetahui kebakaran dari pesan singkat anaknya saat sedang berada di rumah.
“Saya langsung ke pasar, tapi sudah habis. Tidak ada yang bisa diselamatkan,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Ironisnya, sehari sebelum kejadian, Erida baru saja mengisi stok dagangan dalam jumlah besar senilai sekitar Rp 40 juta. Barang-barang itu belum sempat terjual. Tiga mesin penggiling miliknya juga ikut terbakar.
“Kalau ditotal dengan mesin, kerugian bisa sampai Rp 200 juta,” katanya.
Bagi Erida, pasar bukan sekadar tempat berdagang, melainkan satu-satunya sumber penghasilan. Kini ia hanya bisa berjualan kecil-kecilan dari rumah, dengan pendapatan yang jauh dari cukup.
Di tengah kesedihan para pedagang, sorotan mulai mengarah pada pengelolaan pasar dan langkah antisipasi kebakaran. Sejumlah pedagang mempertanyakan sistem keamanan dan mitigasi risiko di Pasar Baru Labuan. Apakah tersedia alat pemadam api ringan (APAR) yang memadai? Bagaimana kondisi instalasi listrik di area kios?
Erida mengaku selama ini para pedagang rutin membayar retribusi harian sebesar Rp 40 ribu. “Kami bayar retribusi tiap hari. Sekarang kami butuh kejelasan, kapan pasar dibersihkan dan diperbaiki supaya bisa dagang lagi,” ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi terkait skema bantuan atau kompensasi bagi pedagang terdampak. Pemerintah daerah dan pengelola pasar diharapkan segera mengambil langkah konkret, mulai dari pendataan kerugian, penyediaan tempat relokasi sementara, hingga rencana pembangunan kembali pasar dengan standar keamanan yang lebih baik.
Pengamat kebijakan publik menilai, peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan pasar tradisional di daerah. “Retribusi yang dibayarkan pedagang seharusnya juga mencakup jaminan keamanan dasar. Jika tidak ada sistem pencegahan kebakaran yang memadai, maka perlu ada evaluasi serius,” ujarnya.
Sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan aparat berwenang, para pedagang berharap pemerintah tidak hanya hadir saat api menyala, tetapi juga dalam proses pemulihan.
Di antara sisa puing kiosnya, Erida hanya memiliki satu harapan sederhana: bisa kembali berdagang. “Kami tidak minta banyak. Tolong segera dibereskan supaya kami bisa cari makan lagi,” katanya.
Musibah ini bukan sekadar tragedi kebakaran, melainkan ujian bagi tanggung jawab pemerintah daerah dan pengelola pasar dalam melindungi ekonomi rakyat kecil.
FAQ - Pertanyaan Umum
Apakah kerugian yang dialami pedagang Erida akibat kebakaran Pasar Baru Labuan
Erida kehilangan seluruh isi kiosnya, termasuk barang dagangan senilai sekitar Rp 40 juta yang belum terjual dan tiga mesin penggiling. Menurut perkiraan, kerugian totalnya bisa mencapai Rp 200 juta. Ia kini hanya dapat berjualan kecil-kecilan dari rumah dengan pendapatan yang jauh lebih rendah.
Apakah sudah tersedia alat pemadam api ringan (APAR) di pasar dan bagaimana kondisi instalasi listriknya
Para pedagang menanyakan kehadiran APAR yang memadai serta kondisi instalasi listrik di area kios. Hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi bahwa sistem pemadam api dan instalasi listrik telah memenuhi standar yang aman, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan risiko kebakaran di masa depan.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!