Lebak – Kantor Bupati Lebak menjadi sorotan publik, Senin (2/3/2026), ketika ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Lebak menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menyoroti dugaan permainan tender dalam proyek rehabilitasi Alun-alun dan ...
Exceutive Summary
Ratusan mahasiswa di Lebak menggelar aksi menuntut transparansi pengelolaan APBD dan proses tender proyek rehabilitasi Alun‑Alun Rangkasbitung. Mereka menuduh praktik “ijon proyek” dan meminta publik dapat melihat dokumen perencanaan, tender, dan pelaksanaan. Selain itu, mahasiswa menyoroti pengeluaran Rp1,3 miliar untuk toilet dan Rp350 juta untuk pakaian dinas, serta menuntut audit rinci. Sektor pendidikan dan kesehatan juga menjadi fokus: mahasiswa menelakani disparitas antara desa dan kota, meminta beasiswa afirmatif, pemerataan fasilitas, dan pengawasan ketat pada program Rumah Tidak Layak Huni serta pungutan dana Hari Kesehatan Nasional. Mereka juga mendesak pembangunan Pustu di Gunung Gede dan Panggarangan agar akses layanan kesehatan lebih merata. Aksi ini mencerminkan kritik terhadap kepemimpinan satu tahun Bupati dan Wakil Bupati Lebak.
Poin Penting
- • Ratusan mahasiswa Lebak menuntut transparansi tender proyek rehabilitasi Alun‑Alun Rangkasbitung serta audit penggunaan APBD, menyoroti dugaan praktik “ijon proyek” dan pembelanjaan barang mewah pejabat.
- • Aliansi menyoroti ketimpangan pendidikan dan kesehatan, meminta solusi beasiswa afirmatif, pengawasan program rumah layak huni, dan percepatan pembangunan pustu Gunung Gede.
- • Aksi mahasiswa menuntut pengelolaan infrastruktur dan lahan transparan, termasuk penertiban mobil pengangkut pasir, pengawasan pasar Semi Rangkasbitung, dan bersiap kembali turun ke jalan bila pemerintah tidak merespon.
Daftar Isi
Lebak – Kantor Bupati Lebak menjadi sorotan publik, Senin (2/3/2026), ketika ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Lebak menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menyoroti dugaan permainan tender dalam proyek rehabilitasi Alun-alun dan transparansi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lebak.
Aksi ini juga menjadi refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Lebak, yang dituangkan dalam pernyataan sikap bertajuk “Raport Merah: Lebak Darurat Arah, Rakyat Menunggu, Oligarki Berpesta.”
Aliansi yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam, HMI MPO, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Kumala menilai satu tahun seharusnya cukup bagi pemerintahan untuk menunjukkan arah kebijakan dan keberpihakan kepada rakyat.
Ketua Kumala, Rohimin, mengatakan, “Kami menilai masih ada persoalan tata kelola pemerintahan, transparansi anggaran, serta ketimpangan pembangunan yang perlu dibuka secara terang kepada publik.”
Dugaan “Ijon Proyek” dan Audit Anggaran
Salah satu sorotan utama mahasiswa adalah dugaan praktik “ijon proyek” dalam pembangunan rehabilitasi Alun-alun Rangkasbitung. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Lebak membuka dokumen perencanaan, proses tender, hingga pelaksanaan proyek kepada masyarakat sebagai bentuk transparansi.
Selain itu, Aliansi menyoroti pengelolaan anggaran penataan pujasera dan pembangunan toilet senilai Rp1,3 miliar. Mereka menilai audit rinci sangat penting untuk memastikan penggunaan APBD berjalan efisien dan akuntabel.
Mahasiswa juga meminta klarifikasi terbuka terkait pembelanjaan baju dinas Bupati, Wakil Bupati, dan pejabat eselon II yang disebut bernilai lebih dari Rp350 juta.
Pendidikan dan Kesehatan Jadi Sorotan
Dalam aksi tersebut, Aliansi menyoroti disparitas kualitas dan akses pendidikan antara desa dan kota. Mereka mendesak pemerintah menghadirkan solusi konkret melalui beasiswa afirmatif, pemerataan fasilitas pendidikan, serta penguatan pengawasan bantuan pendidikan.
Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) juga diminta diawasi ketat agar tepat sasaran. Dugaan pungutan pada peringatan Hari Kesehatan Nasional hingga Rp50 ribu per tenaga kesehatan dan Rp2–5 juta per lembaga juga menjadi perhatian.
Selain itu, percepatan pembangunan Pustu Gunung Gede, Panggarangan dinilai mendesak untuk menjamin akses layanan kesehatan bagi masyarakat.
Infrastruktur dan Lahan Jadi Sorotan Tambahan
Aliansi Mahasiswa Lebak menyoroti penertiban mobil pengangkut pasir yang beroperasi di luar jam ketentuan. Mereka juga menyoroti dugaan penyerobotan lahan di Desa Jayasari.
Pengelolaan Pasar Semi Rangkasbitung diminta transparan dan berpihak pada pedagang kecil agar tidak menimbulkan beban ekonomi baru.
Tegas dan Siap Mengawal
Aliansi menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral sebagai agen perubahan dan kontrol sosial.
Rohimin menegaskan, “Kami tidak anti pemerintah, tetapi kami anti terhadap ketidakadilan, ketertutupan, dan penyimpangan kekuasaan.”
Mahasiswa menuntut respons terbuka dari Pemerintah Kabupaten Lebak. Jika dalam waktu wajar tidak ada langkah konkret, mereka menyatakan siap kembali turun ke jalan dengan massa lebih besar.
FAQ - Pertanyaan Umum
Why did the students organize a protest at the Lebak District Office
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Lebak menolak dugaan permainan tender dalam proyek rehabilitasi Alun‑Alun Rangkasbitung serta kurangnya transparansi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lebak.
Apa yang dimaksud dengan “ijon proyek” dalam konteks protes ini
“Ijon proyek” merujuk pada dugaan praktik korupsi atau kolusi dalam proses tender dan pelaksanaan proyek, di mana mahasiswa menuntut pembukaan dokumen perencanaan, proses tender, hingga pelaksanaan proyek rehabilitasi Alun‑Alun Rangkasbitung.
Perihal apa saja yang diangkat oleh aliansi mahasiswa tentang pengelolaan anggaran
Aliansi menilai ada persoalan tata kelola pemerintahan, transparansi anggaran, serta ketimpangan pembangunan. Mereka menuntut audit rinci atas pengelolaan anggaran penataan pujasera dan toilet senilai Rp1,3 miliar, serta klarifikasi belanja baju dinas Bupati, Wakil Bupati, dan pejabat eselon II yang melebihi Rp350 juta.
Bagaimana sektor pendidikan dan kesehatan terlibat dalam aksi ini
Mahasiswa menyoroti disparitas akses pendidikan antara desa dan kota, menuntut beasiswa afirmatif, pemerataan fasilitas, dan pengawasan bantuan pendidikan. Mereka juga meminta pengawasan ketat terhadap Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) serta percepatan pembangunan Pustu Gunung Gede dan Panggarangan.
Apakah yang diminta mahasiswa terkait pengeluaran pejabat daerah
Mahasiswa menuntut klarifikasi terbuka mengenai belanja baju dinas Bupati, Wakil Bupati, dan pejabat eselon II, yang menurut mereka bernilai lebih dari Rp350 juta, serta pengeluaran terkait pungutan pada Hari Kesehatan Nasional yang mencapai Rp50 ribu per tenaga kesehatan dan Rp2–5 juta per lembaga.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!