Rusia dilaporkan kehilangan kontak dengan pimpinan sektor nuklir Iran di tengah serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut. Informasi ini disampaikan oleh Russia Today yang mengutip pernyataan dari Rosatom. Direktur ...
Exceutive Summary
Rusia kehilangan kontak dengan pimpinan sektor nuklir Iran setelah serangan AS dan Israel menargetkan wilayah sekitarnya, melaporkan Russia Today. Direktur Rosatom, Alexey Likhachev, mengungkapkan bahwa operasional di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr dihentikan sementara dan sekitar 639 personel Rusia masih berada di fasilitas tersebut. Meski masih ada komunikasi dengan pejabat Iran di lokasi, kontak dengan pimpinan nuklir nasional terputus, dan status fasilitas lainnya tetap tidak pasti. Likhachev menegaskan adanya ledakan beberapa kilometer dari perimeter, yang meski tidak menargetkan langsung pembangkit, namun menambah ketegangan. Rosatom telah evakuasi hampir 100 orang dan berencana mengevakuasi 150‑200 tambahan jika situasi memburuk. Pembangkit menyimpan sekitar 70 ton bahan bakar aktif dan 210 ton bekas; dampak serangan bisa menimbulkan insiden regional besar. Rusia tetap menjadi kontraktor utama proyek ini, yang dimulai pada 1970-an, dihentikan setelah Revolusi Islam, dan dilanjutkan kembali oleh Rosatom pada 1990-an.
Poin Penting
- • Rusia kehilangan kontak dengan pimpinan sektor nuklir Iran, sementara operasi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr dihentikan seiring serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
- • Rosatom, kontraktor utama proyek tersebut, masih menampung sekitar 639 personel Rusia di fasilitas tersebut dan berencana evakuasi tambahan 150–200 personel bila situasi memburuk.
- • Pembangkit tersebut menyimpan 70 ton bahan bakar nuklir aktif dan lebih dari 210 ton bahan bakar bekas, sehingga serangan di sekitarnya dapat menimbulkan insiden nuklir dengan dampak regional.
Rusia dilaporkan kehilangan kontak dengan pimpinan sektor nuklir Iran di tengah serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut. Informasi ini disampaikan oleh Russia Today yang mengutip pernyataan dari Rosatom.
Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, menyatakan bahwa operasional di Bushehr Nuclear Power Plant di Iran selatan telah dihentikan sementara akibat serangan udara di wilayah sekitarnya. Saat ini terdapat sekitar 639 personel Rusia yang masih berada di fasilitas tersebut. Rosatom merupakan kontraktor utama proyek tersebut dan tengah membangun unit kedua serta ketiga pembangkit.
Menurut Likhachev, meskipun komunikasi dengan pejabat Iran di lokasi Bushehr masih berjalan, pihaknya telah kehilangan kontak dengan pimpinan sektor nuklir nasional Iran. Status instalasi nuklir lainnya di berbagai wilayah negara itu juga belum dapat dipastikan.
Ia menjelaskan bahwa situasi di sekitar pembangkit semakin mengkhawatirkan. Ledakan terdengar beberapa kilometer dari perimeter fasilitas, meskipun disebut tidak secara langsung menargetkan pembangkit, melainkan instalasi militer di sekitarnya. Namun, ia menegaskan bahwa ancaman terhadap fasilitas nuklir tersebut terus meningkat.
Rosatom sebelumnya telah mengevakuasi hampir 100 orang dari Iran, termasuk staf non-esensial dan keluarga pegawai. Perusahaan juga berencana mengevakuasi tambahan 150 hingga 200 personel apabila situasi memungkinkan.
Likhachev juga mengingatkan bahwa pembangkit tersebut menyimpan sekitar 70 ton bahan bakar nuklir aktif serta lebih dari 210 ton bahan bakar bekas. Jika persediaan itu terdampak serangan, dampaknya berpotensi menjadi insiden besar dengan konsekuensi setidaknya berskala regional.
Rusia diketahui memiliki peran penting dalam program nuklir sipil Iran, khususnya di Bushehr. Pembangunan fasilitas tersebut dimulai pada pertengahan 1970-an oleh perusahaan Jerman Barat, namun terhenti setelah Revolusi Islam 1980. Proyek itu kemudian dilanjutkan kembali oleh Rosatom pada 1990-an dan unit pertamanya mulai beroperasi pada awal 2010-an.
FAQ - Pertanyaan Umum
Apakah alasan Rusia kehilangan kontak dengan pimpinan sektor nuklir Iran
Rusia kehilangan kontak karena serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel di sekitar Bushehr Nuclear Power Plant. Serangan tersebut mengganggu jalur komunikasi dan menimbulkan ketidakpastian dalam koordinasi antara Rosatom dan pejabat Iran.
Berapa banyak personel Rusia yang masih berada di fasilitas Bushehr setelah serangan
Setelah serangan, sekitar 639 personel Rusia tetap berada di fasilitas tersebut. Rosatom juga telah mengevakuasi hampir 100 staf non‑esensial dan keluarga pegawai, dan berencana mengevakuasi tambahan 150 sampai 200 personel jika situasi memungkinkan.
Bagaimana dampak potensial jika bahan bakar nuklir di Bushehr terkena serangan
Bushehr menyimpan sekitar 70 ton bahan bakar nuklir aktif dan lebih dari 210 ton bahan bakar bekas. Jika persediaan ini terganggu oleh serangan, dapat menimbulkan insiden besar dengan konsekuensi yang berskala setidaknya regional.
Apakah Rosatom masih dapat beroperasi di Bushehr meski kehilangan kontak dengan pejabat Iran
Meskipun Rosatom masih dapat berkomunikasi dengan pejabat Iran di lokasi, mereka kehilangan kontak dengan pimpinan sektor nuklir nasional Iran. Operasional di Plant dihentikan sementara, dan Rosatom menilai situasi di sekitar fasilitas semakin mengkhawatirkan.
Sejarah pembangunan Bushehr Nuclear Power Plant dan peran Rosatom dalam proyek tersebut
Proyek Bushehr dimulai pada pertengahan 1970-an oleh perusahaan Jerman Barat, terhenti setelah Revolusi Islam 1980, lalu dilanjutkan oleh Rosatom pada 1990-an. Unit pertama mulai beroperasi pada awal 2010-an, dan Rosatom terus membangun unit kedua dan ketiga.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!