Lebak – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Lebak (AML) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Lebak, Senin (3/3/2026). Aksi tersebut merupakan refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Lebak. Massa ak...
Exceutive Summary
Ratusan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Lebak (AML) menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Lebak pada 3 Maret 2026 untuk menilai satu tahun kepemimpinan Bupati Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya dan Wakil Bupati. Demonstran, yang terdiri dari berbagai organisasi mahasiswa, menuntut transparansi anggaran, audit program, dan klarifikasi pengeluaran publik. Beberapa aksi tegang muncul saat bupati tidak segera menemui massa, termasuk pembakaran ban dan upaya masuk ke pagar pendopo. Koordinator AML, Musail Waedurat, menyampaikan “rapor merah” terhadap janji kampanye yang belum terpenuhi. Tuntutan utama meliputi pengawasan rehabilitasi Alun-alun Rangkasbitung, pengusutan pungutan di Hari Kesehatan Nasional, audit Program Rumah Tidak Layak Huni, serta pengendalian truk pasir dan belanja pakaian dinas. Aksi ini menandai pergeseran dinamika politik lokal, menegaskan mahasiswa sebagai mekanisme kontrol sosial dalam demokrasi daerah. Hingga saat ini belum ada respon resmi pemerintah Kabupaten Lebak.
Poin Penting
- • Ratusan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Lebak (AML) menuntut transparansi dan evaluasi satu tahun kepemimpinan Bupati Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya serta Wakil Bupati melalui aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Lebak, menyoroti banyak janji kampanye yang belum terpenuhi.
- • Demonstrasi menampilkan aksi tegang, termasuk pembakaran ban dan upaya menara pagar pendopo, di mana para mahasiswa menuntut 14 poin kritik, mulai dari audit anggaran rehabilitasi alun‑alun, klarifikasi pengeluaran dinas, hingga penertiban truk pasir dan audit program Rumah Tidak Layak Huni.
- • Aksi ini dianggap sebagai mekanisme kontrol sosial dalam demokrasi daerah, mengingat belum ada respons resmi dari pemerintah kabupaten terhadap tuntutan mahasiswa, menegaskan perlunya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan publik.
Daftar Isi
Lebak – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Lebak (AML) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Lebak, Senin (3/3/2026). Aksi tersebut merupakan refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Lebak.
Massa aksi berasal dari berbagai organisasi mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung dan elemen kampus lainnya, di antaranya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam, HMI MPO, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, serta KUMALA.
Situasi Memanas, Mahasiswa Desak Transparansi
Aksi sempat berlangsung tegang ketika Bupati Lebak, Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya, tidak kunjung menemui massa.
Sejumlah demonstran membakar ban bekas sebagai bentuk protes dan terlibat aksi saling dorong dengan aparat keamanan.
Beberapa peserta aksi bahkan menaiki pagar Pendopo Bupati untuk memastikan keberadaan kepala daerah di dalam kompleks perkantoran tersebut. Aparat keamanan tampak berupaya mengendalikan situasi agar tidak meluas.
Koordinator aksi, Musail Waedurat, dalam orasinya menyampaikan bahwa demonstrasi ini merupakan bentuk evaluasi terbuka terhadap kinerja pemerintahan daerah selama satu tahun terakhir.
“Selama satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Lebak, masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Banyak janji kampanye yang belum diwujudkan. Karena itu, kami datang untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka dan memberikan rapor merah atas satu tahun kepemimpinan ini,” ujarnya.
Empat Belas Tuntutan Evaluasi
Aliansi Mahasiswa Lebak membawa 14 poin tuntutan yang mereka nilai krusial untuk ditindaklanjuti pemerintah daerah. Beberapa di antaranya menyangkut isu transparansi anggaran dan dugaan penyimpangan.
Mahasiswa mendesak transparansi terkait rehabilitasi Alun-alun Rangkasbitung dengan nilai anggaran Rp4,9 miliar. Mereka juga meminta pengusutan dugaan pungutan pada peringatan Hari Kesehatan Nasional, yang disebut mencapai Rp50 ribu per tenaga kesehatan dan Rp2–5 juta per lembaga.
Selain itu, tuntutan lain mencakup audit Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) agar tepat sasaran, penertiban truk pasir yang beroperasi di luar jam ketentuan, hingga klarifikasi belanja pakaian dinas kepala daerah dan pejabat eselon II yang disebut mencapai lebih dari Rp350 juta.
Isu ketimpangan akses pendidikan antara desa dan perkotaan serta pengelolaan Pasar Semi Rangkasbitung juga menjadi sorotan dalam aksi tersebut. Termasuk pula permintaan audit anggaran penataan pujasera dan pembangunan toilet yang dilaporkan bernilai Rp1,3 miliar.
Kritik sebagai Kontrol Demokrasi
Aksi mahasiswa ini menandai meningkatnya dinamika politik lokal di Kabupaten Lebak. Dalam konteks demokrasi daerah, unjuk rasa dinilai sebagai bagian dari mekanisme kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.
Mahasiswa menegaskan bahwa satu tahun masa kepemimpinan seharusnya cukup untuk menunjukkan arah kebijakan yang jelas dan keberpihakan terhadap kepentingan publik.
“Kami hari ini secara tegas memberikan rapor merah kepada Bupati dan Wakil Bupati. Satu tahun bukan waktu yang singkat. Seharusnya sudah mampu membaca arah kebijakan dan membuktikan keberpihakan kepada rakyat,” tegas Musail.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Lebak terkait respons atas 14 tuntutan yang disampaikan mahasiswa.
FAQ - Pertanyaan Umum
Kenapa ratusan mahasiswa menggelar aksi di depan Kantor Bupati Lebak
Aksi tersebut merupakan refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya dan Wakil Bupati Lebak. Mahasiswa mengajukan evaluasi terbuka dan rapor merah atas kinerja pemerintahan selama satu tahun terakhir.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!